Setelah melaksanakan sistem pembelajaran secara online selama masa pandemi COVID-19, pelajar SMAS Caritas Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT, akhirnya mengikuti ujian penilaian akhir semester genap Tahun Pelajaran 2019/2020 yang diikuti sebanyak 91 pelajar SMAS Caritas Maumere Kelas X dan Kelas XI yang dimulai sejak Kamis, 28 Mei hingga Sabtu, 6 Juni 2020 secara online.
Hal itu disampaikan Kepala SMAS Caritas Maumere, Tarsisius Kris Lidi kepada media ini Sabtu (30/5/2020).
Kris Lidi menjelaskan, sebelumnya, sesuai Instruksi Gubernur NTT terkait pemberlakuan pembelajaran secara online ditengah pandemi COVID-19, pihaknya menerapkan pembelajaran secara online melalui aplikasi google drive dan media sosial.
“Jadi, disaat situasi COVID-19 seperti itu, dengan adanya surat dari Gubernur, kita langsung berlakukan itu dan anak-anak mulai dengan pembelajaran online. Setelah itu, kita langsungkan ujian penilaian akhir semester genap,” jelas Kris.
Dijelaskan, sistem pembelajaran dan ujian online yang diterapkan di SMAS Caritas Maumere dengan menggunakan aplikasi google drive yang mana peserta didik diberikan link sekaligus nomor token kepada masing-masing peserta didik dengan nomor yang berbeda.
Setelah menyelesaikan soal ujian melalui aplikasi google drive, para peserta didik akan mengirimkan ke hasil pekerjaannya kepada tim IT SMAS Caritas Maumere yang merupakan panitia ujian penilaian akhir semester genap Tahun Pelajaran 2019/2020, kemudian akan diteruskan ke masing-masing guru mata pelajaran.
Hasil pemeriksannya pun, kata Kris Lidi tidak memakan waktu lama yakni satu hari pemeriksaan oleh guru mata pelajaran dan para peserta didik langsung mengetahui hasil ujiannya yang dikirim kembali ke masing-masing peserta didik.
Dikatakan, selama masa pandemi COVID-19, dengan adanya Instruksi Gubernur NTT terkait pembelajaran online, pihak SMAS Caritas Maumere membuat kelas online
“Setelah instruksi itu, kita sudah buat kelas online. Jadi penyebaran soal ujian itu kita sebarkan di kelas online yang sudah dibentuk. Tugas dan lain-lain itu, kita sebarkan lewat kelas online. Jadi kelas online itu kita bentuk ada dua yakni di Whatsapp Grup Kelas dan Messenger Grup Kelas. Jadi untuk link Google Drive soal ujian dan nomor token itu yang kita sebarkan lewat kelas online itu,” ujar Kris Lidi.
Kris Lidi juga mengakui bahwa dalam sistem pembelajaran dan ujian online, pihaknya mengalami beberapa kesulitan antara lain, terdapat 21 pelajar SMAS Caritas Maumere yang belum memiliki HP Android.
Salah satu pelajar SMAS Caritas mengikuti ujian secara manual. Foto : Istimewa
Terhadap ke 21 pelajar SMAS Caritas Maumere yang tidak memiliki HP Android, Kris mengatakan pihaknya tetap menyebarkan informasi baik melalui pelajar yang memiliki HP Android dan diteruskan ke teman-temannya yang tidak memiliki HP Android maupun melalui Komite sekolah lalu diteruskan ke para peserta didik atau para guru langsung ke rumah-rumah untuk memberikan tugas dan pendampingan.
“Jadi diinformasikan ke anak-anak yang tidak miliki HP Android dan mereka akan datang secara manual. Itu berlaku saat ujian saja, tetapi selama masa pandemi, mereka juga tetap mengikuti pembalajaran online dengan cara bergabung sama teman-temannya yang miliki HP. Mereka yang tidak miliki HP ini rata-rata yang ekonomi orang tuanya lemah dan mereka yang tinggal di daerah yang tidak ada signal,” ujarnya.
Namun, kata Kris, meskipun masih ada pelajar SMAS Caritas Maumere yang belum memiliki HP Android, pihaknya mempunyai strategi tersendiri untuk mengatasi hal tersebut.
Kris kemudian mengakui bahwa pembelajaran online berpengaruh terhadap prestasi siswa karena terkadang beberapa informasi ataupun tugas tidak sampai kepada peserta didik yang belum mempunyai HP Andorid.
Tetapi, sebagai Kepala Sekolah, Kris tetap menghimbau kepada masing-masing wali kelas dengan strateginya masing-masing agar tetap menjangkau peserta didik tersebut.
Sementara itu, nilai positif dari sistem pembelajaran online yang diterapakan oleh SMAS Caritas Maumere, menurut Kris Lidi yaitu terbangunnya komunikasi baik antara guru dan peserta didik serta partisipasi orang tua dalam pendampingan anak selama belajar di rumah juga meningkat. Orang tua mendampingi dan membantu peserta didik selama pelajaran.
Rencananya, usai pelaksanaan ujian online, pembagian laporan pendidikan pun dilakukan secara online.
Dirinya berharap, pemerintah memperhatikan kekurangan yang dialami peserta didik yakni terkhusus bagi peserta didik yang belum memiliki HP Android.
Sementara itu, Bernadetha Carmeliana Luciani, siswa Kelas XI IPS 1 SMAS Caritas Maumere yang dikonfirmasi media melalui telepon genggamnya pada Sabtu (30/5/2020) mengaku kesulitan saat menjalani pembelajaran online. Menurutnya, orang tua harus menyiapkan uang tambahan untuk membeli kuota data internet.
“Saya lebih suka belajar reguler dari pada belajar online. Apalagi belajar online kan harus pake data jadi data yang 15 GB untuk 1 bulan itu biasanya tidak cukup, pakai 2 minggu saja sudah habis,” ujar Lucy yang saat dihubungi sedang mengikuti ujian online hari ke 3.
Terkait pelaksanaan ujian online, Siswi Kelas XI IPS 1 SMAS Caritas Maumere asal Lela ini mengaku mendapat kesulitan pada hari pertama.
Lucy mengatakan, pada saat akan mengirim hasil ujian berupa gambar, dirinya harus menyesuaikan dengan besaran ukuran gambar pada saat diupload. Karena ukuran gambar terlalu besar dan tidak bisa di upload, terpaksa soal ujian di refresh dan dikerjakan ulang.
Namun, di hari kedua dan ketiga, dirinya mengaku tidak mendapat kendala.
