Dialog Hamba Kepada Raja

Posted Leave a commentPosted in Artikel

By. Yuli Prastyawan, S.Pd

Sepertiga sunyimu memanggilku
Mendayu-dayu menyadarkanku
Tergerak raga mengikutimu
Ku basahi hati dengan airmu

Saat semua makhluk terlelap
Raga berdiri menghadap
Tunduk berbisik penuh harap
Keluarkan resah yang mengendap

Ribuan kali ku panggil namamu
Lembut merasuk menusuk kalbu
Bersimpuh menagih janjimu
Layaknya kata dalam ayatmu

Langit terbuka mendekap tubuhku
Terasa hangat walau tak beku
Jantung terkumpul untaian asmamu
Mengalir bersama darah ke segala arah
Tenang memberi keyakinan
Dialog jiwa kasat mata hamba kepada raja

Bias Dusta

Posted Leave a commentPosted in Artikel

By. R. Sholichah

Pada angin yang turun pelan-pelan

Dari langit

Mengembus bumi

Pada tutur janji yang kauberi

Memberiku perih luka
Antara hitam dan putih

Menemukan di sudut lorong-lorong mungil
Sebelum semua mengikuti perjalanan ini,

Ia masih asri bersama dedaunan pohon durian, tumbuh beringingan dengan rindangnya pohon rambutan

Ia adalah sepenggal cerita

Namun  bukan bagian kita,
hanya saja hadir di antara mereka yang mulai berguguran,

atau diperlakukan lagi, mengulangi saat Desember sudah menguning di penghujung ceritaku

Lalu memilih dua sisi yang telah ditunjuk,

Hitam atau putih

Pada Desember yang menguning ini tak ada lagi tentang kita

Hari Ayah: Seberapa Pentingkah Peran Ayah bagi Remaja?

Posted 1 CommentPosted in Artikel
Foto: Getty Images/iStockphoto/ChristinLola

Oleh R. Sholichah

Berbeda dengan Hari Ibu yang sudah populer dan selalu diperingati tiap bulan Desember, gaung peringatan Hari Ayah masih jarang terdengar. Padahal, sama seperti ibu, peran ayah juga sangat sangat krusial dalam perkembangan anak di masa remaja.

Ayah, dengan sosoknya yang tangguh, biasanya identik dengan tugas mencari nafkah, sibuk di luar rumah, memperbaiki perkakas rusak, dll. Sebenarnya, sosok ayah tidak sebatas tugas-tugas tersebut, justru ayah adalah pemegang peran penting dalam keluarga, khususnya dalam perkembangan remaja.

Menurut Dwi Ratna Laksitasari dalam artikelnya yang berjudul “Fatherless Country” dalam laman babelprov.go.id. “Fatherless Country” adalah negara yang memiliki kecenderungan di mana peranan ayah minim terlibat secara signifikan dan hangat dalam kehidupan sehari-hari seorang anak. Di Indonesia,  peranan ayah dianggap sosok pencari nafkah yang bekerja keras sehingga tidak perlu dibebani dengan tugas mengasuh anak.

Selain peran sang ibu, sejatinya remaja sangat membutuhkan sosok ayah sebagai role model dan menuntunnya menjadi remaja yang berkepribadian positif. Peran ayah harus mampu membuat rasa aman dan nyaman bagi anak terutama ketika anak menemui situasi sulit  saat  remaja.

Lalu, seberapa pentingkah peran ayah bagi remaja?  Berikut beberapa peran penting ayah dalam perkembangan kehidupan remaja, di antaranya,

  1. Pembangun Kehidupan Akademik
    Ayah sangat berperan bagi kehidupan akademik anak remajanya. Sebuah jurnal yang dirilis oleh www.elsevier.com tentang pengaruh kedekatan ayah pada remaja di Taiwan menjelaskan bahwa ayah memegang peranan penting dalam kesuksesan akademik remaja. Ketika ayah hadir dalam proses pendidikan remaja, mereka cenderung lebih fokus dan memiliki goal dalam menuntaskan pendidikan.
  2. Pembangun Kepercayaan Diri
    Saat ayah terlibat dalam perkembangan emosi remaja, atau ketika ayah menunjukkan rasa kasih sayang pada sang anak, secara tidak sadar anak yang telah menjadi remaja tersebut akan mudah berekspresi sehingga membangun kepercayaan diri menjadi lebih mudah. Ia merasa dipercaya dan mampu menjadi dirinya baik di lingkungan pribadi hingga kehidupan sosial. Sosok ayah yang selalu hadir dalam setiap aktivitas remaja akan menumbuhkan remaja yang aktif, berani tampil, dan memiliki kepercayaan diri yang maksimal. Sebaliknya, ayah yang tidak mampu hadir dalam setiap aktivitas anak, dipastikan anak akan sulit berkomunikasi dengan dunia luar dan kurang memiliki kepercayaan diri.
  3. Pembangun semangat anak
    Anak di kehidupan remajanya akan memiliki kualitas psikologis yang baik jika di lingkungan keluarganya, ia memiliki sosok ayah yang selalu memberi motivasi dan dukungan anak baik dalam hal belajar atau sekadar menekuni hobi di luar akademika.
  4. Pembangun Konsep Diri Anak
    Orang tua baik ayah maupun ibu harus menjadi sosok panutan untuk anak. Namun, ayah menjadi pemegang peran utama dalam pembentukan konsep diri anak. Ayah yang selalu hadir dan memberikan konsep yang positif terhadap anaknya, maka anak akan tumbuh menjadi remaja yang terdidik secara positif menjadi pribadi yang bertanggung jawab, stabil, memiliki prinsip dan berpegang teguh pada konsep diri yang positif meskipun ia berada pada lingkungan yang berbeda di luar sana. Remaja yang memiliki ikatan yang kuat dengan ayahnya, akan lebih mahir mengendalikan stres ketika ia beranjak dewasa, daripada remaja yang tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya. Dapat dipastikan, seorang anak remaja yang mendapatkan perhatian yang utuh dari ayahnya cenderung memiliki konsep diri yang kuat, kondisi emosional yang stabil, merasa aman, dan berani mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Pendidikan Kejuruan Berbasis Etnopedagogi : Penguatan Gusjigang

Posted Leave a commentPosted in Artikel
R. Sholichah, S.Pd. Guru SMK Negeri 2 Kudus (Doc.pribadi)

Oleh R. Sholichah, S.Pd. Guru SMK Negeri 2 Kudus

Penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan proses kegiatan pembelajaran yang mempersiapkan peserta didik sebagai calon tenaga kerja sesuai dengan kompetensi keahlian yang dipilih. Selain dibekali pengetahuan dan keterampilan, proses pembelajaran di SMK juga perlu penguatan nilai-nilai kearifan lokal.

Pembelajaran berbasis Etnopedagogi merupakan aktualisasi pembelajaran yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai kearifan lokal. Etnopedagogi di SMK perlu diimplementasikan dengan strategi maupun media pembelajaran inovatif yang mampu menarik perhatian siswa untuk memahami dan mengaplikasikan kearifan lokal.

Firmansyah, Haris dkk.(2021:27) menyatakan bahwa Etnopedagogi adalah praktik pendidikan yang berbasis kearifan lokal dalam membekali perkembangan peserta didik yang sesuai dengan nilai-nilai lokal sehingga dapat bersikap, berpengetahuan, dan berperilaku yang sesuai kondisi sosial budaya di daerahnya serta sesuai dengan kepentingan bersama. Nilai-nilai kearifan lokal menjadi kekuatan yang luar biasa dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai modal keunggulan yang berkompetitif.

Gusjigang merupakan sebuah akronim dari bagus, ngaji dan dagang. Wardani, dkk.(2021:28) menyatakan bahwa Gusjigang adalah sebuah filosofi yang diajarkan oleh Sunan Kudus. Filosofi ini begitu lekat dengan masyarakat Kudus karena Gusjigang dianggap sebagai perwujudan karakter masyarakat Kudus. Selama ini masyarakat Kudus dikenal sebagai seseorang yang bagus dalam penampilan, mempunyai jiwa entrepreneur, baik perilakunya dan mempunyai pemahaman agama yang luas.

Berangkat dari penjelasan di atas gagasan untuk menguatkan nilai-nilai bagus, ngaji dan dagang dalam proses pembelajaran menjadi satu hal yang sangat penting ditengah gencarnya kampanye tentang pendidikan berkarakter. Sejatinya pendidikan tidak hanya berperan untuk menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan khusus, memiliki kecerdasan, serta memiliki keunggulan yang  kompetitif. Bagus, ngaji, dan dagang  mengandung nilai-nilai, konsep dan muatan pendidikan berbasis etnopedagogi yang layak dikuatkan dan dikembangkan.

Gusjigang adalah konsep hidup yang agung. Nilai ‘bagus’ yang bermakna bagus dalam penampilan dan manusia yang memiliki budi pekerti dapat diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran di SMK, di antaranya melalui penegakan kedisiplinan terhadap tata tertib yang berlaku dan aturan tentang seragam, pemakaian aksesori, berbicara dan bersikap terhadap teman dan guru, serta aturan mengenai rambut siswa laki-laki. Model dan potongan rambut bagi siswa laki-laki harus rapi dan cepak ala militer. Rambut cepak ala militer menjadi pilihan model bagi siswa SMK  dikarenakan selama ini tentara memiliki standar disiplin yang tinggi, tegas, berani, dan tangguh.

Konsep yang kedua adalah ngaji. Nilai ‘ngaji’ bermakna tekun mengaji dan memiliki pemahaman agama yang luas.  Selain memiliki penampilan dan budi pekerti yang bagus, kita harus harus memiliki basis dan modal spiritual yang kokoh. Nilai-nilai spiritual agamalah yang bisa membuatnya memiliki makna lebih. Pengetahuan, keterampilan, visi dan kemauan, kerja keras, adalah beberapa hal mendasar yang dibutuhkan oleh lulusan SMK agar mampu bersaing dan sukses. Segala hal tersebut akan menjadi luar biasa jika dikuatkan  oleh akhlak yang mulia. Pendidikan di SMK, nilai-nilai bagus dan ngaji tidak hanya sebatas pengetahuan, tapi terinternalisasi dalam perilaku dan budaya kerja perlu diterapkan di sekolah.

Konsep yang terakhir adalah dagang. Nilai  ‘dagang’ bermakna memiliki jiwa enterpreneur atau motivasi untuk berdagang. Nilai ini dapat diaplikasikan dengan menciptakan peluang usaha. Pendidikan SMK terdiri dari beberapa kompetensi keahlian. Masing-masing kompetensi keahlian umumnya memiliki unit produksi/unit pelayanan jasa yang bisa digunakan untuk penerapan kegiatan berwirausaha bagi siswa dan guru. Misalnya Kompetensi Keahlian Teknik Komputer Jaringan, melalui unit produksi/unit pelayanan jasa siswa dapat membuka pemesanan jasa desain grafis, desain vector, servis leptop, servis ponsel, desain printing, jasa pemasangan wifi, dan lain-lain sehingga siswa  menjadi mandiri. Dengan begitu, siswa dapat mempersiapkan personal yang mandiri dan terampil serta mampu mengaplikasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam  keseharian mereka.

 

Gema Indonesia Raya Kikis Amnesia Nasionalisme Pelajar

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Cuaca sedang menawan hari ini, walau di jalan-jalan masih tersisa genangan bekas hujan semalam. Matahari dengan elegi paginya masih menyinari dan setia menemani rutinitas sehari-hari. Seperti biasanya para manusia dengan beragam tujuan berlomba-lomba berpacu pada pukul tujuh. Tak ketinggalan siswa-siswa di salah satu SMK di Sekitaran lereng Muria juga menunaikan kewajiban mereka hari ini. Sebagai seorang pelajar yang di tuntut tepat waktu sampai di sekolah maksimal pukul tujuh kurang sepuluh. Mereka telah bersiap menangkis rasa kantuk yang menghinggap. Tak lain demi mempersiapkan titian masa depan yang lebih gemilang lagi.

Lokasi tepatnya berada di SMKN 2 Kudus, satu-satunya SMK Negeri yang berada di lereng muria. Sebelum masuk ke area SMK lebih dalam lagi. Para siswa harus lebih dulu memasuki gapura SMK yang diberi nama Tri Saka Dharma. Gapura megah dengan makna filosofi yang mendalam. Gapura dengan arsitektur yang terdiri dari lima pilar dan desain buku ini menggambarkan siswa SMK dengan starta kelas yang ada. Sedangkan desain buku di pilih warga sekolah dengan pertimbangan bahwa membaca adalah awal dari segala asa untuk meningkatkan kualitas hidup serta menjauhkan diri dari jurang kebodohan. Tak ayal terdapat peribahasa “buku adalah jendela ilmu” dan “membaca adalah jendela dunia”. Dengan membaca generasi muda dapat belajar, dan bukannya tidak mungkin pemahaman mengenai kemajemukan bangsa dapat di peroleh. Sehingga hal itu dapat menjadi upaya untuk mencegah terjadinya disintegrasi bangsa.

Selanjunya para siswa bersalaman secara takzim kepada guru-guru piket yang berjajar rapi di sisi kanan dan kiri Gapura Tri Saka Dharma. Tentunya sambil mencium tangan dan mengucapkan salam. Hal itu dilakukan untuk melawan lupa terhadap budaya positif bangsa Indonesia. Menumbuhkan nilai moral untuk menghormati guru dan orang tua pada para insan pewaris bangsa perlu dilakukan, agar kelak ketika anak muda terjun langsung dalam masyarakat moral mereka tidak luntur dan akan selalu terpatri dalam setiap tindakan.

“Kurangnya pendidikan moral menjadi masalah baru, seharusnya peran guru yang ada bisa menanamkan pendidikan karakter yang lebih baik lagi”. Ujar Yosy Setyaji Guru PPKn muda.

Jam sudah menunjukan pukul tujuh kurang sepuluh, bel masuk pun sudah sampai pada indra pendengaran. Gerbang Tri Saka Dharma otomatis ditutup, meninggalkan siswa-siswa yang tak taat akan peraturan. Mereka akan menerima konsekuensi atas tindakan yang tak terpuji, berjalan jongkok dan potong bross lah yang biasanya dijadikan sanksi. Bukan untuk menghukum dan mengorek-orek kesalahan, namun agar para siswa bisa lebih disiplin dan  bertanggung jawab lagi.

Bel pertama pembelajaran sebentar lagi berbunyi seperti biasa para guru, staf tata usaha, dan karyawan telah lebih dulu menjalankan rutinitas apel pagi. Sedangkan para siswa sudah masuk dalam ruang kelas maupun lab praktik jurusan. Sebelum memulai proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), para siswa terlebih dahulu menjalankan aktivitas untuk mengokohkan karakter unggul mereka sebagai pelajar. Tak lain dan bukan ialah kewajiban menyanyikan lagu kebangsaan. Sebelumnya mereka terlebih dulu berdoa hikmat sesuai keyakinan. Meminta kepada Tuhan agar di beri kelancaran dalam proses pembelajaran.

Jika terdengar seruan aba-aba “Berdiri siap grak !” dari ketua kelas. Sikap sempurna secara otomatis harus diindahkan para penghuni kelas. Siswa-siswi beranjak dari yang semula duduk menjadi berdiri. Sorot mata mereka fokus memandang kedepan. Siap menunggu instruksi gerak isyarat dari dirigen yang akan memandu paduan suara teman sekelasnya. “Hiduplah Indonesia raya, ” pandu Sang Dirigen Kelas tepat pada ketukan ke empat.

Mereka dengan kompak mengumandangkan Lagu Indonesia Raya dengan hikmat. Lirik demi lirik lagu kebangsaan ciptaan Wage Rudolph Soepratman lancar dilafalkan para siswa, dengan mengikuti aturan nada dan irama yang seharusnya. Tanpa diiringi instrumen musik apapun para pelajar menyanyikan Lagu Indonesia Raya lengkap satu stanza. Stanza pertama, dengan satu kali ulangan pada bait ketiga stanza pertama.

“Kami terbiasa menyanyikan Lagu Indonesia Raya setiap pagi, awalnya memang agak malas sih tapi lama-lama ya enggak masalah juga. Malahan kalau enggak nyanyi rasanya ada yang kurang gitu malah tanpa sadar telah mengikis perlahan amnesia nasionalisme kami”. Ujar Abi Zakariya.

Mereka mengumandangkan lagu kebangsaan yang menjadi lambang negara itu dengan penuh rasa bangga. Bagaimana tidak, momentum hari pahlawan 10 November kemarin masih terkenang jernih dalam ingatan. Lagu Indonesia Raya menggema di ranah SMK, bersatu padu melebur bersama ruang dan waktu. Kelas-kelas lain juga melakukan aktivitas wajib serupa, dengan hanya dibatasi bilik-bilik kelas dan sekat tembok yang memisahkan. Lantunan lirik, nada, dan irama lagu Indonesia Raya jelas terdengar bahkan dalam radius puluhan meter.

Tak berhenti sampai disitu, saat bel pulang mulai berdentang dan para siswa sudah siap berkemas. Mereka tak lantas langsung pulang. Mereka terlebih dahulu berdoa dan mengucap hamdalah bersama. Berbeda dengan di awal pembelajaran, sekarang mereka diwajibkan menyanyikan lagu nasional maupun lagu daerah. Dari hari ke hari, lagu-lagu nasional dan daerah silih berganti dinyanyikan sesuai pilihan mereka. Dari mulai Lagu Garuda Pancasila, Satu Nusa Satu Bangsa, hingga suwe ora jamu menanti untuk dinyanyikan. Sekali lagi ragam lagu-lagu nasional dan daerah terdengar disuarakan lantang para siswa.

“Kami biasanya menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah sebelum pulang. Lagunya sih ganti ganti biasanya Garuda Pancasila, Syukur, Gundul Gundul Pacul, dll sesuai keinginan teman-teman”. Tutur Maesya Arinda menunjukan semangat cinta tanah air.

“Semangat nasionalisme remaja saat ini berbeda dengan zaman dulu, sekarang semakin banyak pilihan dalam memperjuangkan kemerdekaan misal dalam bidang teknologi, olahraga, bahkan game online sekalipun”. Tambah Yosi Setyadi guru muda yang khas dengan gingsulnya itu.

Pengorbanan para pahlawan tak patut disia-siakan. Para pemuda tinggal meneruskan jejak langkah para pahlawan yang telah tertorehkan. Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Lagu-lagu nasional, dan daerah merupakan wujud nyata bela negara para pemuda. Para pemuda tak boleh lupa lagu kebangsaan adalah jati diri bangsa.

“Kami memang tidak ikut berperang melawan penjajah, namun kami berperang melawan rasa malas dan sikap apatis terhadap negeri”. Ujar Ketua Kelas Andre Darmawan.

“Kami menyanyikan lagu indonesia raya setiap hari, melihat bendera merah putih juga. Jika bendera di kelas kotor, teman-teman yang piket akan mencucinya bergilir”. Tambahnya dengan menunjukan sikap nasionalisme yang bermuara pada rasa patriotisme.

Lagu nasional dan daerah tak boleh kalah saing dengan gempuran lagu  rock, pop barat, dan k-pop yang terus menjadi-jadi. Lagu Indonesia Raya harus menggema di tanah ibu pertiwi sendiri. Hal itu tak dapat dikompromi lagi dan harga mati bagi kami.