Gema Indonesia Raya Kikis Amnesia Nasionalisme Pelajar

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Cuaca sedang menawan hari ini, walau di jalan-jalan masih tersisa genangan bekas hujan semalam. Matahari dengan elegi paginya masih menyinari dan setia menemani rutinitas sehari-hari. Seperti biasanya para manusia dengan beragam tujuan berlomba-lomba berpacu pada pukul tujuh. Tak ketinggalan siswa-siswa di salah satu SMK di Sekitaran lereng Muria juga menunaikan kewajiban mereka hari ini. Sebagai seorang pelajar yang di tuntut tepat waktu sampai di sekolah maksimal pukul tujuh kurang sepuluh. Mereka telah bersiap menangkis rasa kantuk yang menghinggap. Tak lain demi mempersiapkan titian masa depan yang lebih gemilang lagi.

Lokasi tepatnya berada di SMKN 2 Kudus, satu-satunya SMK Negeri yang berada di lereng muria. Sebelum masuk ke area SMK lebih dalam lagi. Para siswa harus lebih dulu memasuki gapura SMK yang diberi nama Tri Saka Dharma. Gapura megah dengan makna filosofi yang mendalam. Gapura dengan arsitektur yang terdiri dari lima pilar dan desain buku ini menggambarkan siswa SMK dengan starta kelas yang ada. Sedangkan desain buku di pilih warga sekolah dengan pertimbangan bahwa membaca adalah awal dari segala asa untuk meningkatkan kualitas hidup serta menjauhkan diri dari jurang kebodohan. Tak ayal terdapat peribahasa “buku adalah jendela ilmu” dan “membaca adalah jendela dunia”. Dengan membaca generasi muda dapat belajar, dan bukannya tidak mungkin pemahaman mengenai kemajemukan bangsa dapat di peroleh. Sehingga hal itu dapat menjadi upaya untuk mencegah terjadinya disintegrasi bangsa.

Selanjunya para siswa bersalaman secara takzim kepada guru-guru piket yang berjajar rapi di sisi kanan dan kiri Gapura Tri Saka Dharma. Tentunya sambil mencium tangan dan mengucapkan salam. Hal itu dilakukan untuk melawan lupa terhadap budaya positif bangsa Indonesia. Menumbuhkan nilai moral untuk menghormati guru dan orang tua pada para insan pewaris bangsa perlu dilakukan, agar kelak ketika anak muda terjun langsung dalam masyarakat moral mereka tidak luntur dan akan selalu terpatri dalam setiap tindakan.

“Kurangnya pendidikan moral menjadi masalah baru, seharusnya peran guru yang ada bisa menanamkan pendidikan karakter yang lebih baik lagi”. Ujar Yosy Setyaji Guru PPKn muda.

Jam sudah menunjukan pukul tujuh kurang sepuluh, bel masuk pun sudah sampai pada indra pendengaran. Gerbang Tri Saka Dharma otomatis ditutup, meninggalkan siswa-siswa yang tak taat akan peraturan. Mereka akan menerima konsekuensi atas tindakan yang tak terpuji, berjalan jongkok dan potong bross lah yang biasanya dijadikan sanksi. Bukan untuk menghukum dan mengorek-orek kesalahan, namun agar para siswa bisa lebih disiplin dan  bertanggung jawab lagi.

Bel pertama pembelajaran sebentar lagi berbunyi seperti biasa para guru, staf tata usaha, dan karyawan telah lebih dulu menjalankan rutinitas apel pagi. Sedangkan para siswa sudah masuk dalam ruang kelas maupun lab praktik jurusan. Sebelum memulai proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), para siswa terlebih dahulu menjalankan aktivitas untuk mengokohkan karakter unggul mereka sebagai pelajar. Tak lain dan bukan ialah kewajiban menyanyikan lagu kebangsaan. Sebelumnya mereka terlebih dulu berdoa hikmat sesuai keyakinan. Meminta kepada Tuhan agar di beri kelancaran dalam proses pembelajaran.

Jika terdengar seruan aba-aba “Berdiri siap grak !” dari ketua kelas. Sikap sempurna secara otomatis harus diindahkan para penghuni kelas. Siswa-siswi beranjak dari yang semula duduk menjadi berdiri. Sorot mata mereka fokus memandang kedepan. Siap menunggu instruksi gerak isyarat dari dirigen yang akan memandu paduan suara teman sekelasnya. “Hiduplah Indonesia raya, ” pandu Sang Dirigen Kelas tepat pada ketukan ke empat.

Mereka dengan kompak mengumandangkan Lagu Indonesia Raya dengan hikmat. Lirik demi lirik lagu kebangsaan ciptaan Wage Rudolph Soepratman lancar dilafalkan para siswa, dengan mengikuti aturan nada dan irama yang seharusnya. Tanpa diiringi instrumen musik apapun para pelajar menyanyikan Lagu Indonesia Raya lengkap satu stanza. Stanza pertama, dengan satu kali ulangan pada bait ketiga stanza pertama.

“Kami terbiasa menyanyikan Lagu Indonesia Raya setiap pagi, awalnya memang agak malas sih tapi lama-lama ya enggak masalah juga. Malahan kalau enggak nyanyi rasanya ada yang kurang gitu malah tanpa sadar telah mengikis perlahan amnesia nasionalisme kami”. Ujar Abi Zakariya.

Mereka mengumandangkan lagu kebangsaan yang menjadi lambang negara itu dengan penuh rasa bangga. Bagaimana tidak, momentum hari pahlawan 10 November kemarin masih terkenang jernih dalam ingatan. Lagu Indonesia Raya menggema di ranah SMK, bersatu padu melebur bersama ruang dan waktu. Kelas-kelas lain juga melakukan aktivitas wajib serupa, dengan hanya dibatasi bilik-bilik kelas dan sekat tembok yang memisahkan. Lantunan lirik, nada, dan irama lagu Indonesia Raya jelas terdengar bahkan dalam radius puluhan meter.

Tak berhenti sampai disitu, saat bel pulang mulai berdentang dan para siswa sudah siap berkemas. Mereka tak lantas langsung pulang. Mereka terlebih dahulu berdoa dan mengucap hamdalah bersama. Berbeda dengan di awal pembelajaran, sekarang mereka diwajibkan menyanyikan lagu nasional maupun lagu daerah. Dari hari ke hari, lagu-lagu nasional dan daerah silih berganti dinyanyikan sesuai pilihan mereka. Dari mulai Lagu Garuda Pancasila, Satu Nusa Satu Bangsa, hingga suwe ora jamu menanti untuk dinyanyikan. Sekali lagi ragam lagu-lagu nasional dan daerah terdengar disuarakan lantang para siswa.

“Kami biasanya menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah sebelum pulang. Lagunya sih ganti ganti biasanya Garuda Pancasila, Syukur, Gundul Gundul Pacul, dll sesuai keinginan teman-teman”. Tutur Maesya Arinda menunjukan semangat cinta tanah air.

“Semangat nasionalisme remaja saat ini berbeda dengan zaman dulu, sekarang semakin banyak pilihan dalam memperjuangkan kemerdekaan misal dalam bidang teknologi, olahraga, bahkan game online sekalipun”. Tambah Yosi Setyadi guru muda yang khas dengan gingsulnya itu.

Pengorbanan para pahlawan tak patut disia-siakan. Para pemuda tinggal meneruskan jejak langkah para pahlawan yang telah tertorehkan. Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Lagu-lagu nasional, dan daerah merupakan wujud nyata bela negara para pemuda. Para pemuda tak boleh lupa lagu kebangsaan adalah jati diri bangsa.

“Kami memang tidak ikut berperang melawan penjajah, namun kami berperang melawan rasa malas dan sikap apatis terhadap negeri”. Ujar Ketua Kelas Andre Darmawan.

“Kami menyanyikan lagu indonesia raya setiap hari, melihat bendera merah putih juga. Jika bendera di kelas kotor, teman-teman yang piket akan mencucinya bergilir”. Tambahnya dengan menunjukan sikap nasionalisme yang bermuara pada rasa patriotisme.

Lagu nasional dan daerah tak boleh kalah saing dengan gempuran lagu  rock, pop barat, dan k-pop yang terus menjadi-jadi. Lagu Indonesia Raya harus menggema di tanah ibu pertiwi sendiri. Hal itu tak dapat dikompromi lagi dan harga mati bagi kami.

Mbah Rofiq dan Sikap Semeleh

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Hari ini, menjelang dhuhur, ban sepeda motor saya bocor. Saya menambalnya di Mbah Rofiq. Lokasinya di pertigaan Jemur Wonosari, Wonocolo, Surabaya. Pas di depan pertigaan Alfamart. Usai merampungkan tambalan ban, kami ngopi bareng.

Mbah Rofiq kelahiran Nguling, Pasuruan. Sudah 51 tahun tinggal di Surabaya. Berpindah-pindah. Kerjanya sekarang menjadi tukang tambal ban juga jualan pisang. Kulak pisang mentah di Kediri, menjelang matang dibawa ke Surabaya. Setelah ludes, balik lagi ke Kediri. Ngambil stok pisang. Kalau di Surabaya biasanya tidur di beranda rumah depan Alfamart Jemur Wonosari.

Mbah Rofiq menikah tiga kali. Dengan istri pertama bercerai, istri kedua wafat setelah menikah 34 tahun tanpa momongan, dan dengan istri ketiga dia dikaruniai putra. Jarak usia dengan istri ketiganya 25 tahun. Sekarang usia anaknya 10 tahun. Namanya Badar Agus Mubarok, kelas 4 MI, di Tugu, Purwoasri, Kediri.

Obrolan kami soal makna hidup. Kali ini 80 persen saya menjadi pendengar setia. Mbah Rofiq pernah protes kepada Allah, mengapa dapat mertua kaya tapi galak, hingga akhirnya bercerai. Protes juga tentang takdirnya, sudah menikah puluhan tahun lebih tanpa dikaruniai momongan hingga akhirnya istrinya wafat. Juga ketika setelah menikah kali ketiga rumahnya di Kediri malah kebakaran.

Protes setelah shalat tahajud biasanya disampaikan menggunakan “doa yang mengancam”. Merasa tidak terima jika Allah menggariskan takdir demikian untuknya. Tapi, kata Mbah Rofiq, pada akhirnya dia mentok, judeg, sampai pada kesimpulan, hidup pada awalnya bersyukur dan terus bersyukur sampai akhir hidup.

Kesumpekan hidup, lanjut Mbah Rofiq, seringkali bermula pada kurang bersyukur menjalani kehidupan. Terlampau sering mengeluh kepada Allah dan suudzon kepada-Nya, sebagaimana dulu pernah dia alami.

Kini, nasehat dia kepada saya, yang paling enak dan tenang itu menjadi “wong sing akeh syukure”. Semeleh, kata orang Jawa. Meletakkan beban hidup, pasrah kepada Allah. Ikut rel yang digariskan Tuhan. Ketika rasio mentok, akal tidak menjangkau, dan tenaga sudah dikerahkan maksimal, maka totalitas sebagai seorang hamba ini yang difungsikan. Mengosongkan pikiran, membodohkan diri, tidak keminter berhadapan dengan Gusti Allah. Tidak menggurui Sang MahaPencipta.

Menyimak obrolan dengan tukang tambal ban merangkap penjual pisang ini, saya teringat penjelasan Masyai Ulil Abshar Abdalla ketika ngaji Ihya’ Ulumiddin via YouTube itu. Kata Masyai Ulil, ada sebuah hadis yang dikutip berkali-kali oleh al-Ghazali. Bunyinya “Aktsar ahli al-jannati al-bulhu“, sebagian besar orang-orang yang akan masuk surga nanti adalah “al-bulhu“.

Kata al-bulhu adalah bentuk jamak dari ablah yang maknanya, menurut kamus Munjid: orang yang lemah akalnya (dla’ufa ‘aqluhu wa ‘ajaza ra’yuhu).

Makna hadis yang dikutip al-Ghazali di atas itu kira-kira adalah begini: Mayoritas orang-orang yang ada di sorga nanti adalah orang-orang yang bodoh, yang lemah akalnya.

Makna hadis ini, lanjut dedengkot JIL (Jamaah Ihya’ Lovers) ini, adalah semacam kritik terhadap “elitisme” intelektual: bahwa kebenaran dan kebijaksanaan yang akhirnya akan membawa orang kepada kebahagiaan abadi di akhirat kelak, bukanlah monopoli kaum “intelek” yang berpendidikan tinggi.

Orang biasa, sangat biasa, badui, awam, memiliki cara masing-masing dalam meraih surga. Karena itu, ketika mereka ini bertanya kepada Kanjeng Nabi, amalan apa yang bisa membuat mereka masuk surga, jawabannya beda-beda. Disesuaikan dengan konteks dan latar belakang penanya. Jika penanya tidak akur dengan orangtuanya, beliau menjawab amalan pengantar ke surga itu bernama berbakti kepada orangtua. Tatkala penanya kurang baik bertetangga, maka Kanjeng Nabi dawuh jika salah satu ciri penghuni surga itu adalah berbuat baik kepada jiran-nya. Jika si penanya merupakan sosok pemarah, maka Kanjeng Nabi dawuh jika salah satu amal utama yang dicintai Allah dan Rasul-Nya adalah menahan amarah.

Dalam salah satu ceramahnya, Gus Baha’ juga mengutip hadits ini. Bodoh di sini bukan goblok. Melainkan, pada titik tertentu manusia memang harus menanggalkan akalnya, rasionya, logikanya, manakala bersiap diri menjadi hamba-Nya. Sebagaimana Ibrahim Alaihissalam diperintah untuk menyembelih Ismail alaihissalam, atau dalam konteks lain, pada saat Sayyidina Umar mencium Hajar Aswad dan pada saat itu terlontar kalimat masyhur dari beliau:

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku mencium kamu dan aku tahu bahwa dirimu adalah batu yang tidak bisa memberikan bahaya, juga tidak bisa mendatangkan manfaat. Andaikata bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak bakalan mencium kamu.”

Ketika mencium Hajar Aswad ini, Sayyidina Umar meletakkan rasionya, serta menggunakan cintanya, karena Rasulullah telah melakukannya. Beliau tidak berpikir secara logika, melainkan meneguhkan kecintaanya, dan melaksanakan apa yang dilakukan oleh orang yang beliau cintai.

***

Kembali ke sosok Mbah Rofiq. Sikap semeleh, tidak neko-neko, tidak berburuk sangka kepada Allah atas takdir yang dijalani, membuatnya enjoy, nyaman, dan tidak terbebani pikirannya. Membodohkan diri di hadapan Ilahi. Tidak keminter melawan Allah. Ini salah satu kunci ayem tentram, menurutnya. Lainnya, apa lagi Mbah? Jangan banyak ambisi, katanya terkekeh.

Lainnya, Mbah?

“Akeh wong pinter, nanging ora ngerti. Akeh wong ngerti nanging ora sadar. Maksute ora eling Karo Gusti Allah, ora eling yen urip mung mampir ngumbe.” kata Mbah Rofiq.

Kali ini, Mbah Rofiq terkekeh, saya termenung.

Rizal Mumazziq

Mendikbud: Guru Harus Bisa Jadi Teladan

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, menekankan pentingnya keteladanan guru dan tenaga kependidikan (GTK) sebagai syarat suksesnya pendidikan. Bagi Mendikbud, seluruh peserta Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tahun ini harus siap menjadi teladan, baik bagi rekan sesama profesi, maupun bagi peserta didik.

“Mudah-mudahan keberadaan saudara-saudara sekalian di suatu lingkungan ekosistem pendidikan, bisa menjadi contoh, menjadi teladan. Sehingga bisa menjadi tempat bercermin kalau orang ingin mematut diri sebagai guru yang baik, guru yang hebat, bisa dijadikan contoh,” disampaikan Mendikbud dalam malam Apresiasi Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tahun 2018, di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Menurut Muhadjir, problem pendidikan saat ini, disamping terkait materi ataupun metodologi pembelajaran, hal terpenting adalah kurangnya keteladanan. Ia berharap agar para peserta Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi, baik yang menjadi juara maupun tidak, harus siap menjadi teladan di daerahnya masing-masing.

Lebih lanjut, mantan Rektor Universitas Muhamadiyah Malang ini mengimbau agar para guru bersungguh-sungguh menjadi pendidik yang mampu memberikan keteladanan, bukan sekadar menjadi pengajar. Karena ruh pendidikan, baginya, adalah tentang keteladanan.

“Jika guru tidak bisa menjadi teladan, maka hilanglah jati diri keguruannya. Karena itu, keteladanan inilah yang kita dorong. Bagaimana guru tampil sebagai teladan, atau the significant other,” tutur Muhadjir.

Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2018 diikuti 908 orang GTK dari 34 provinsi dan Sekolah Indonesia di Luar Negeri. Peserta terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan yang merupakan hasil seleksi berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, kemudian nasional. Tahun ini kategori mata lomba dibagi menjadi 39 kategori, dan ditentukan pemenang juara I, II, dan III untuk semua kategori lomba.

Teladan di Garis Terdepan

Istiqlal (50), Kepala Sekolah Indonesia Kinabalu di Malaysia, yang merupakan juara I Kepala Sekolah Berprestasi dan Berdedikasi Satuan Pendidikan Indonesia di Luar Negeri Tahun 2018 mengungkapkan rasa bangganya karena bisa ikut berkontribusi menghadirkan negara untuk masyarakat di garis terdepan. Sekolah Indonesia di Malaysia memiliki 295 CLC (community learning center), tersebar di Tawau, Kota Kinabalu, dan Kuching. Satuan pendidikan ini melayani lebih dari 25 ribu peserta didik yang merupakan anak Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi buruh kebun sawit.

“Kami ingin anak-anak ini kembali ke Indonesia, ke kampung orang tuanya untuk terus bersekolah. Kemudian kembali lagi, ‘angkat’ orang tuanya. Hanya pendidikan yang mampu memutus rantai perburuhan,” tegasnya.

Dengan keterbatasan tim manajemen, sebagai manajer sekolah Indonesia terbesar di dunia, Istiqlal merasa perlu menghadirkan sistem manajemen mutu yang disebutnya gugus kendali mutu. “Sekolah kami satu-satunya Sekolah Indonesia di Luar Negeri yang mendapatkan ISO 9001:2015 dengan manajemen risiko,” jelasnya.

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dimanfaatkan untuk melakukan koordinasi kegiatan belajar mengajar agar dapat berjalan dengan lancar dan baik. “Kami buatkan whatsapp group, SD juga SMP. Kami berunding, berurun rembuk melalui grup itu,” ungkap pria yang memasuki tahun keempatnya menjadi Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu ini.

Salah satu kendala yang ditemui Istiqlal adalah partisipasi orang tua yang kurang dikarenakan rendahnya tingkat pendidikan. Hal tersebut kemudian diatasi melalui pendekatan komunitas berupa paguyuban orang tua siswa. Motivasi pendidik dan orang tua dirangsang melalui diskusi menggunakan messenger, serta kompetisi Inobel atau inovasi belajar.

Memilih Guru

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Si Belerang Merah, Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165-1240), dengan tegas menyatakan dalam kitab Hikamnya: “Pastikan dengan baik bahwa engkau mendapatkan ilmu agama itu dari orang yang telah mewarisi nilai-nilai kenabian.”

Apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang sufi yang telah menyelami samudra ilmu keilahian itu? Bagi dia yang sezaman dengan Maulana Jalaluddin Rumi itu, belajar agama tidak saja dipahami sebagai transformasi ilmu agama secara an sich dari seorang guru kepada santri-santrinya.

Tapi lebih dari itu juga merupakan transformasi spiritualitas dan keteladanan yang mulia dan bermartabat. Artinya adalah bahwa seorang guru agama dalam konteks roh keislaman tidak boleh hanya menularkan “konsep” atau pelajaran semata. Dia harus menjadi orang pertama yang berikhtiar dengan sungguh-sungguh mengejawantahkan ilmu yang “dijajakannya” itu.

Sebelum memerintahkan wudhu kepada umatnya, junjungan dan tauladan terbaik dan terluhur bagi kita, Nabi Muhammad Saw, telah terlebih dahulu melaksanakan wudhu. Demikian pula dengan shalat dan berbagai perintah agama lainnya. Beliau adalah orang terdepan yang mengimplementasikan ke dalam tindakan nyata dengan “mulus” ajaran-ajaran risalah yang diembannya.

Seorang guru agama dalam Islam ibarat sebuah sendang. Kalau air yang menggenang di dalamnya jernih, maka setiap orang yang menimba di situ akan mendapatkan air yang jernih pula. Tentu saja dengan adanya suatu pengecualian. Yaitu, kalau wadah yang dipakai untuk menimba itu tidak belepotan dengan lumpur atau kotoran lainnya. Tapi kalau kotoran itu cuma sedikit, pastilah air itu tetap kelihatan jernih.

Itulah sebabnya kenapa Ibn ‘Arabi sendiri senantiasa mengembara untuk menjumpai sendang-sendang rohani yang jernih yang sanggup membersihkan debu-debu dan luka, menyegarkan jiwa dan meneguhkan harapan-harapan keilahian yang rimbun di dalam batinnya. Semua itu didapatkan di dalam diri dan teladan mereka yang telah wushul terlebih dahulu kepada Allah Ta’ala. Dan tidak tanggung-tanggung, yang pernah dijumpai oleh beliau untuk mendapatkan ilmu dan barokah itu lebih dari seribu orang.

Karena itu, merupakan hal yang masuk akal kalau kemudian dinyatakan bahwa beliau tidak lain adalah representasi yang sangat tangguh dan mumpuni di bidang spiritualitas dan ilmu keilahian dalam kancah sufisme. Bahkan ada seorang investigator literatur-literatur sufisme yang dengan tegas menyatakan bahwa seluruh karya sufi yang lain sebenarnya secara ontologis tak lebih dari sekedar catatan kaki dari kitab-kitab Ibn ‘Arabi.

Sedangkan sendang yang kotor, keruh dan bau tengik, apakah yang bisa ditimba dari situ selain air yang tidak bermutu dan bahkan sangat berbahaya untuk dikonsumsi oleh manusia? Bahkan binatang pun mungkin tidak sudi.

Dari seorang guru yang tidak pernah berpapasan dengan cakrawala keilmuan dalam Islam, dari seorang guru yang hanya mengenal satu perspektif keagamaan yang kelam di gorong-gorong pemikirannya yang sumpek, dari seorang guru yang bisanya cuma mencaci-maki dan memberikan stempel sesat, kafir, syirik dan bid’ah kepada siapa saja yang tidak sewarna dengan pemahaman dan mazhabnya, apa yang bisa didapatkan selain bangga diri yang kusam dan gemuruh kebencian yang legam?

Sungguh, betapa sangat penting memiliki guru yang sanad keilmuan dan keluhuran budi pekertinya tersambung dengan orang paling luhur di dunia dan akhirat yang bahkan Allah Ta’ala sendiri turun tangan memujinya. Yaitu, Nabi Muhammad Saw.

Oleh: Kuswaidi Syafiie.

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.

Insan Kamil

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Judul di atas menunjuk kepada seseorang yang telah dianugrahi kesanggupan untuk menampung sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala. Secara fisik, dia tidak lain merupakan makhluk sebagaimana orang lain pada umumnya. Akan tetapi secara ontologis dia adalah pengejawantahan dari kehadiran hadiratNya yang begitu gamblang terbaca pada berbagai tindakan dan perilakunya.

Dialah manusia sempurna yang kepadanya telah dianugrahkan karunia terbesar. Yaitu mendapatkan Allah Ta’ala itu sendiri. Mana ada karunia yang lebih besar di dunia ini dan di akhirat nanti dibandingkan dengan mendapatkan hadiratNya? Tak ada dan tidak akan pernah ada. Sungguh, beruntunglah manusia sempurna itu.

Yang pertama dan paling utama dari manusia sempurna itu tidak lain adalah Nabi Muhammad Saw. Dan setelah beliau adalah orang-orang yang paling mirip secara kualitatif-spiritual dengan beliau dari kalangan para nabi dan wali yang tersebar di dunia ini dari dulu hingga sekarang yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu orang.

Tentang manusia sempurna itu, Allah Ta’ala telah berfirman dalam salah satu hadis qudsiNya, “الإنسان سري وأنا سره/ Dia itu adalah rahasiaKu dan Aku merupakan rahasianya.” Artinya adalah bahwa “alamat” Allah Ta’ala itu tersimpan rapi pada diri insan kamil. Mengamatinya dengan ketajaman mata batin akan menjadikan kita atau siapa saja menemukan sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan-perbuatan hadiratNya. Sedang bagi si insan kamil, Allah Ta’ala itu merupakan pelabuhan dari seluruh hidup dan matinya.

Secara spiritual, insan kamil itu merupakan sumbu bagi berlangsungnya kehidupan di seluruh alam raya. Bagaimana mungkin tidak, sedangkan kepadanya diserahkan oleh hadiratNya tidak saja pengetahuan secara detail tentang segala sesuatu yang ada dan terjadi, tapi lebih dari itu dia juga dianugrahi kesanggupan untuk mengaturnya sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Secara rohani, seluruh partikel alam semesta mengitarinya dengan penuh khidmat.

Ada pertalian yang sangat indah dan kuat antara seorang insan kamil dengan Allah Ta’ala. Dialah perpanjangan tangan hadiratNya dalam mengelola berlangsungnya roda-roda kehidupan. Karena itu dapat dimaklumi dan dipastikan bahwa ilmu pengetahuan yang ada pada diri insan kamil merupakan salinan langsung dari ilmu yang dimiliki oleh Allah Ta’ala. Baik ilmu itu secara global maupun secara terperinci.

Pertalian itu juga sangat indah dan kuat antara pena (al-qalam) dengan roh seorang insan kamil. Dalam konteks kepustakaan sufisme Ibn ‘Arabi, yang disebut pena Ilahi itu tidak lain adalah ilmu pengetahuan yang mendetail tentang segala sesuatu yang ada di alam semesta. Semua ilmu pengetahuan itu tertata dengan rapi di cakrawala roh insan kamil.

Demikian pula antara Lawh Mahfuzh dengan hati seorang insan kamil, pertalian di antara keduanya sangat sublim. Dalam konteks ini, Lawh Mahfuzh itu dipahami sebagai “tempat” pembukuan dan pencatatan segala sesuatu yang berlangsung hingga batas tertentu. Karena itu, tidak satu daun gugur pun yang tidak terdeteksi oleh pengetahuan seorang insan kamil.

Pun, antara istana (al-‘Arsy) Ilahi dengan jasmani seorang insan kamil terdapat pertalian yang kukuh. Sebagaimana juga antara kursi hadiratNya dengan nafsu seorang insan kamil. Konotasi istana Ilahi itu menunjuk kepada persemayaman nama-nama Allah Ta’ala yang dipakai untuk mengatur semesta. Sedang yang disebut dengan kursi Ilahi itu tertuju kepada posisi perintah dan laranganNya.

Begitu sangat indah dan kuat hubungan antara insan kamil itu dengan hadiratNya. Sampai-sampai Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barangsiapa melihatku, maka sungguh dia melihat Allah Yang Mahabenar.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Oleh: Kuswaidi Syafiie